Selasa, 04 Desember 2012

cerita masa lalu


KONYOL
Pernah di dalam hidup saya mengalami down,karena saya kehilangan orang yang benar-benar saya sayangi. Karena kesalahan saya sendiri yang melepaskan dia tanpa alsan membuat saya kehilangan dia, pacar pertama saya yang bagi saya seorang yang sempurna. Hampir saya mengakhiri hidup saya karena cinta, mungkin itu pemikiran yang konyol. Tapi apa yang ku rasakan benar-benar tidak sanggup rasanya untuk melepaskan dia. Tidak bisa hidup tanpa dia, dimana yang setiap matahari mulai membuka mata selalu ada kata-kata ucapan selamat pagi darinya sekarang sudah tidak pernah ku dapatkan. Kejadian itu waktu kelas 2 SMA, dimana saya juga mengalami konflik dengan keluarga dari ayah saya. Sungguh begitu berat ku hadapi tekanan yang menyerang diriku, ditambah kehilangan dia seorang yang begitu berharga,yang tidak pernah bisa kulupakan sampai saat ini pun juga. Meskipun saya berusaha melupakan dan mencari penggantinya tetap saja tidak bisa melupakannya rasa bersalah selalu menghantui pikiranku.
Saat -saat terberat  dalam hidup saya dulu ketika melupakan kebiasaan yang selalu ada dia menemani kepedihanku karena tekanan dari keluarga yang seperti singa. Tak kuat menahan tekanan-tekanan,tapi apa daya saya telah masuk bersama kedalam rumah yang berisikan singa yang selalu menerkam hatiku.
Hal tersulit saat menghilangkan kebiasaan bersamanya yang hati dan raganya miliku,tak bisa ku dapatkan lagi raganya.
Begitu sulit melupakan kenangan-kenangan bersmanya yang telah menjadi kenangan terindah dalam hidupku. Begitu indah dirinya bagiku,sampai tak sanggup menjalani hidup tanpa kasih sayangnya. Dan sempat putus asa,ingin mengakhiri hidup karena sangat stres tanpa dia. Selalu berpikir saya tak bisa hidup tanpa dia. Saya tak peduli apa kata orang, hanya karena cinta sampai ingin mati. Tak peduli dengan pernyataan seperti itu, mereka tak pernah tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang benar-benar bisa membuat saya nyaman. Kehilangan di saat hati terbelenggu kepedihan. Orang tak tau apa yang kurasakan,tak bisa mengerti,bagaimana rasanya hati yang menjerit karena jahatnya keluarga. Keluarga tapi seperti musuh yang tak punya hati, mata tertutup hanya mendengar apa yang singa katakan. Tak pernah memandang kenyataan,hanya memakan omong kepalsuan.
Bagaimana bisa dengan mudahnya hapuskan kepedihan itu,apalagi pada saat itu juga orang yang sangat ku sayangi pergi karena kesalahanku. Ku coba tuk selalu menyembuhkan luka hati namun tak ada guna lagi dia telah memilih yang lain.
Perlahan,,,, hati yang setiap hari memeluk kesepian dan kepedihan akhirnya pun saya bisa melewati hari tanpa dia. Mencoba tuk bangkit,cinta tak harus memiliki. Mungkin dia memang bukan untukku. Tapi rasa bersalah tak pernah enggan tuk pergi dari kehidupanku,ingin ku miliki kesempatan kedua meskipun hanya sekali tapi tak pernah dia beri kepadaku.
Belajar iklhas meski tak rela,belajar rela meski tak sanggup,belajar menerima meski kehilangan,belajar sabar meski sakit, belajar tersenyum meski hati menangis,belajar menghargai meski tak dihargai,belajar memanfaatkan kesempatan karena kesempatan kedua belum tentu ada atau mungkin belum tentu diberi,belajar menerima keadaan meski pahit,belajar dari kesalahan,belajar tuk menerima kenyataan dan tak lari dari kenyataan,belajar menikmati hidup,belajar mengasihi meski tak berarti.
Meski tak kan rela melihat dia bersamanya tapi itulah yang harus ku terima,dengan kehilangan kita akan tahu seberapa berartinya dia.Tanpa kesalahan kita tidak akan tahu mana yang lebih baik yang seharusnya kita lakukan.
Akhirnya perlahan mulai bangkit, bisa menjalani hidup tanpa dia meskipun masih terasa sakit. Tapi ku coba bahagia menerima melihat dia bahagia bersama yang lain. Masih ada orang-orang yang begitu berarti buat saya dan sayang pada saya. Mungkin hari esok kan lebih baik,dengan apa yang terjadi dulu menjadi pelajaran yang bisa jadikan ke yang lebih baik.
Hanya bisa melihat,tapi tak bisa menyentuh hatinya. Entah sampai kapan kan seperti ini,hanya pengharapan kan ada kesempatan kedua.
‘’jaga dia yang kau cinta,jangan sakiti dia,bila kau menyakiti teruslah berusaha menyembuhkan luka itu.
Tetap tersenyum meski hati menjerit perih,suatu saat akan lebih indah lebih dari yang kau harapkan,masih ada kebahagiaan lain yang menantimu.’’
_ EF _

artikel


KURANGNYA KESADARAN MASYARAKAT DESA AKAN PENTINGNYA KECAKAPAN HIDUP
By : Dwitania R.A.
Pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan yang diberikan supaya peserta didik memiliki kecakapan-kecakapan guna membekali peserta didik agar mampu,sanggup dan terampil untuk menghadapi persoalan-persoalan atau pun masalah-masalah yang ada. Adapun tujuan dari pendidikan kecakapan hidup ini yaitu menyiapkan peserta didik yang bersangkutan agar mampu, sanggup, dan terampil menjaga kelangsungan hidup, dan perkembangannya di masa datang. Berbicara mengenai pendidikan kecakapan hidup yang ada pada saat ini sebenarnya belum tercapai dari tujuan yang diharapkan. Padahal pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah telah diselenggarakan untuk meningkatkan kualitas,keterampilan dan potensi yang dimiliki peserta didik sehingga peserta didik memiliki banyak pilihan dalam menjalani kehidupanya. Dari penyelenggaraan pendidikan sekolah dan pendidikan di luar sekolah tersebut diharapkan peserta didik mempunyai kualitas yang siap untuk menghadapi kehidupan di masa yang akan datang,memiliki wawasan yang luas tentang karir supaya siap dan mampu terjun dalam dunia kerja. Selain itu,peserta didik juga diharapkan mampu untuk menghadapi serta mengatasi bebagai masalah kehidupan.
Dari kenyataan yang ada, banyak tamatan atau lulusan dari pendidikan formal yang belum siap dan memasuki dunia kerja. Bekal yang mereka dapatkan masih kurang,masih banyak pengangguran terutama di desa. Banyak anak-anak di desa yang masih belum bekerja bahkan putus sekolah. Padahal tuntutan perkembangan jaman semakin kompleks.  Anak yang sudah mendapatkan pendidikan yang tinggi saja banyak yang masih kurang mendapatkan bekal kecakapan hidup,apalagi yang pendidikanya masih rendah. Di dalam dunia kerja banyak perusahaan atau lembaga yang menetapkan standard tamatan atau lulusan pekerja yaitu minimal lulusan SMA/SMK/sederajat. Dari standard yang ditentukan tersebut banyak sekali anak-anak yang dari desa yang tidak memenuhi syarat sehingga mereka tidak mendapatkan pekerjaan yang layak bahkan mengganggur. Melihat kenyataan tersebut sangatlah memprihatinkan, kurangnya bekal kecakapan hidup serta kurangnya kesadaran akan perkembangan jaman beserta masalah-masalah kehidupan yang kompleks mengakibatkan mereka menjadi seperti itu. Sebenarnya pemerintah telah menyelenggarakan program sekolah paket A (SD),paket B (SMP) dan paket C (SMA), namun antusias mengikuti program tersebut sangatlah kurang. Padahal dari mengikuti program tersebut setidaknya mereka mempunyai ijazah bagi mereka yang belum mempunyai ijazah dari jenjang sekolah yang lebih tinggi dari yang mereka miliki,bahkan bagi mereka yang tidak pernah sekolah atau yang tidak tamat sampai lulus SD. Selain itu juga mereka dapat meningkatkan kualitas pendidikanya,tidak hanya sekedar lulusan SD dan SMP. Program tersebut sebenarnya bermanfaat bagi mereka untuk meningkatakan kualitas hidupnya,sehingga mereka mampu memenuhi syarat untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai. Bagi mereka juga bermanfaat untuk mengembangkan daya pikir,menambah wawasan,mengembangkan keterampilan dan potensi yang di miliki. Meningkatkan kesadaran orang-orang di desa sangatlah sulit,sebenarnya mereka tahu bahwa mencari pekerjaan sulit tapi mereka tetap saja diberikan kesempatan untuk belajar tidak memanfaatkanya dengan baik. Mereka jarang hadir dalam kegiatan pembelajaran tersebut,bahkan ada yang hanya mendaftar saja tapi tidak pernah hadir sama sekali. Kesempatan yang ada tidak mereka gunakan sebaik-baiknya, bagaimana bisa mereka meningkatkan kualitas hidupnya?
Selain program pendidikan paket A, B dan C tersebut,masih ada program yang di selenggarakan di desa yaitu pelatihan khusus. Misalnya, pelatihan menjahit,kursus komputer dan pelatihan membuat keterampilan. Bagi mereka yang tidak bisa melanjutan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi terutama para wanita,mereka dapat mengikuti pelatihan kursus menjahit. Dimana dengan kursus tersebut mereka memnpunyai keterampilan menjahit,sehingga mereka bisa disalurkan ke perusahaan garmen atau pun bisa mendirikan usaha menjahit sendiri. Bagi ibu-ibu yang keadaan ekonominya kurang mereka pun bisa menambah penghasilannya dari menjahit,tidak hanya berdiam di rumah tidak mempunyai penghasilan. Dari kursus komputer misalnya,mereka yang tidak bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi dan masih sulit mendapatkan kerja,mereka dapat mengikuti kursus komputer. Dimana perusahaan-perusahaan yang ada pasti membutuhkan pegawai yang bisa mengoperasikan komputer. Dari kursus tersebut mereka bisa memiliki keterampilan mengoperasikan program komputer,sehingga bisa menjadi peluang untuk usaha sendiriatau pun masuk ke perusahaan. Selain kursus komputer bisa juga kursus bahasa Inggris atau pun bahasa asing lainya. Dari keterampilan berbahasa asing tersebut pasti akan mudah untuk mendapatkan pekerjaan, atau juga bisa membuka les bahasa asing terutama bahsa Inggris yang pasti di setiap sekolah diajarkan bahasa Inggris dan membuka peluang untuk mendirikan les bagi pelajar yang ada disekitar daerahnya.
Kemudian pelatihan keterampilan, pelatihan keterampilan ini bisa mengajarkan mereka untuk bisa membuat kerajinan tangan,misalnya mengolah barang bekas atau limbah menjadi kerajinan tangan atau sesuatu yang bermanfaat. Dari pelatihan ini,daya pikir kreatif diperlukan sehingga mereka bisa melatih mereka untuk lebih kreatif bahkan bisa menghasilkan inovasi produk baru. Selain itu, mereka bisa memanfaatkan sumber daya yang ada disekitar mereka dan di olah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi sehingga meskipun di desa,mereka bisa mendirikan industri kecil atau industri rumahan. Dari industri kecil tersebut mungkin suatu saat akan menjadi usaha besar disertai dengan keuletan yang menjalankan usaha tersebut. Serta memanfaatkan bekal kecakapan hidup yang pernah mereka dapatkan dari pendidikan sekolah maupun luar sekolah,misalnya kecakapan berpikir,kecakapan sosial yaitu berkerjasama,kecakapan vokasional,dan kecakapan lainya.
Apabila program yang telah diselenggarakan dimanfaatkan dan dikelola dengan baik maka harapan yang diinginkan akan tercapai. Perlunya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingya pendidikan dan kecakapan hidup supaya mereka mampu menghadapi dan mengatasi persoalan dalam kehidupan mereka. Kita seharusnya membantu untuk meningkatkan kesadaran mereka. Serta perlunya peningkatan dalam pemberian bekal kecakapan hidup di dalam sekolah-sekolah,tidak hanya teori saja yang diberikan.


                                               


puisi


Malamku

Kesunyian hantarkan gelapnya malam
Menepiskan angan,
Angan tentang hatimu yang begitu indah
Tak terasa dari sudut mata pun jatuh tetesan air kerinduan
Hanya mata ini yang bisa melihatmu tersenyum
Hanya bisa ku memeluk bayangmu
Di hantaran keheningan malamku
Mata hati teteskan kepedihan
Memandang hatimu telah memilih yang lain
Tinggalkan aku bersama kasihku
Ku coba mencoret namamu di dinding hati tapi tak ada arti
Bayang senyumu tak pernah bisa tergantikan
Layaknya embun pagi,
Segarkan nafas seiring semerbak bunga tunjukan keindahan mahkotanya.

By : dwitania

cara membuat bentuk 3 dimensi dwngan powerpoint


Membuat Bentuk 3 Dimensi dengan Power Point 2010 Untuk Media Pembelajaran
Written By Catatan Ngajar Ustadz Bowo on Jumat, 18 Mei 2012 | 11:27
Dalam membuat media pembelajaran kadang kita membutuhkanm gambar-gambar 3 dimensi agar media tersebut dapat terlihat lebih jelas. Misalnya dalam matematika gambar kubus, balok dan dalam IPA misalnya bentuk TV, radio dan sebaginya. Sehingga diharapakan Media yang digunakan dapat di gunakan dengan anak dengan lebih baik karena dapat terlihat seperti bentuk sebenarnya dibandingkan dengan bentuk 2 dimensi.Untuk Kali ini saya akan meberikan tutorial singkat membuat bentuk 3 dimensi menggunakan Power point 2010. Dan untuk Power point 2007 prinsipnya sama perbedaanya adalah gradasi warna yang lebih keren jika menggunakan Power point 2010.

1. Insert – shape – pilih gambar yang di suka misalnya oval.
2. Untuk memberi warna dasar silahkan klik format dan klik shape fill atau klik kanan shape oval dan format shape pilih solid fill atau gradien fill
3. Sorot shape oval selanjutnya klik kanan dan format shape dan pilihn 3D- format anda bisa memilih bentuk Bevelnya dengan mengeklik tanda panah dan atur pula lebar dan tingginya dengan mengatur (with dan hight) begitu juga botomnya.
3. Untuk memberi warna silahkan pilih warna klik bagian coloud dan counturnya begitu juga untuk memberikan bentuk permukaan pilih material dan lighting yang anda sukai. Silahkan Anda coba berulang-ulang untuk mencari bentuk yang sesuai dengan yang Anda kehendaki.
4. Untuk membuat obyek 3 D lebih bagus rotasinya klik 3D rotasi dan pilih presets yang anda suka seperti dengan mengeklik tanda panah hitam,
5. Silahkan atur juga rotasi X, Y dan Z agar sesuai dengan yang anda inginkan.
6. Untuk merubah bentuk gambar silahkan klik shape yang sudah dibentuk 3 dimensi lalu klik format – dan selanjutnya klik edit shape dan pilih shape yang anda suka.


cerpen

Radio Transistor
by Cerpen Kompas on 12:59 PM, 08-Jun-12
Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai, tak ada penduduk yang berani menyeberang dengan perahu kecil lainnya terutama pada musim seperti saat ini.
Hari ini bulan ketujuh sejak Hamid hilang tertelan arus sungai yang membelah kampung itu. Sejak sebuah perusahaan milik orang kota menebang pohon di gunung tepat ke arah matahari terbenam itu, arus sungai menjadi sangat deras. Paling berbahaya sebab batangan pohon sering ikut menerjang apa saja yang menghalanginya. Iman desa Basari pernah ditemukan pingsan dihantam batangan pohon yang hanyut itu saat berak di pinggir sungai. Beruntung ia tidak terbawa arus dan menjadi mangsa buaya putih yang dipercaya penduduk kampung sebagai penjaga sungai itu entah sejak kapan.
Beberapa kali terdengar suara gedebuk dari kebun belakang. Buah kelapa yang matang tak kuat lagi bergelantungan di pohonnya sehingga harus rela jatuh ke bumi menimbulkan bumi gedebuk tadi. Tak ada yang peduli. Selain pohon cokelat yang tumbuh serampangan, pohon kelapa menjadi penghasil kopra dan menjadi pendapatan lain selain padi dan jagung bagi penduduk kampung itu. Beberapa keluarga menanam ubi jalar dan ketela di antara pohon cokelat. Beberapa ratus meter ke arah bukit, terdapat pekuburan yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. Tak banyak penduduk yang suka datang ke pekuburan itu, selain untuk memakamkan warga kampung yang meninggal. Terlalu angker, kata mereka.
Kampung sebenarnya telah mati bersamaan saat matahari jatuh ke ufuk barat. Surau yang lebih banyak kosong berdiri rapuh di ujung jalan menghadap ke timur. Beberapa rumah terlihat masih menyisakan aktivitas. Terdengar suara bercakap dari penghuninya diselingi gerakan lampu minyak kemiri yang sering-sering hampir padam terkena angin dari sela-sela dinding rumah. Dinding rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki memang jarang-jarang. Itulah mengapa angin malam yang dingin menggigit bisa dengan leluasa memainkan api lampu kemiri yang menjadi penerang utama rumah-rumah penduduk. Aktivitas pemilik rumah juga dengan mudah terlihat dari luar. Hampir-hampir tak ada privacy. Bahkan, aktivitas di atas tempat tidur pun bisa terlihat dari sela-sela dinding rumah yang tak pernah tersentuh alat serut kayu.
Nenek Lido masih merapikan jagung-jagung kering sisa kebun yang dipetiknya tiga hari lalu. Rencananya, jagung yang telah mengeras itu akan ditumbuk di lesung kayu miliknya tepat di bawah pohon samping kandang dua ekor kambing miliknya di belakang rumah. Kakek Lido, suaminya, sangat gemar menyantap nasi campur jagung meskipun hanya berlauk ikan asin dan sayur daun berbumbu segenggam garam kasar.
Dua anak gadisnya, Jona dan Warni, berusaha menggotong pisang yang masih basah sisa hujan ke loteng darurat, tepat di atas ranjang keduanya. Jona yang lebih tua memanjat loteng terlebih dahulu untuk menarik ke atas sementara Warni adiknya mengusung pisang dari bawah. Dua orang gadis tangguh. Tak hanya secara fisik, tapi juga ketegaran menghadapi kemiskinan. Sesekali Nenek Lido memandang kedua anak gadisnya dari arah belakang. Ia masih sering memendam keinginan menggendong mereka dalam buaian kasihnya seperti ketika ia melahirkan mereka berdua. Nenek Lido melahirkan Jona ketika usianya telah mendekati masa menopause. Puluhan tahun ia menunggu kehadiran anak- anaknya. Tak terhitung dukun yang didatanginya. Ia telah hampir putus asa ketika Jona mulai ia hamilkan. Nenek sangat mencintai kedua putrinya itu meskipun orang-orang kampung sering kali menggunjingkan usianya yang tidak lagi muda.
Tak lama, upaya Jona dan Warni berhasil dan pisang bisa digantung di sebilah bambu yang dipasang melintang di loteng. Jona sempat berbalik ke belakang sebelum turun ke lantai bawah. Ujung telinganya seakan mendengar tarikan nafas di balik timbunan daun jagung yang menjadi dinding penahan angin di loteng bagian belakang. Tak ada apa-apa. Gelap.
Kakek Lido tak pernah beranjak dari tempatnya, kursi kayu sekaligus ranjang tempat tidurnya. Sudah tiga belas tahun dia menikmati hari-harinya di situ. Saat istrinya membopong pisang, jagung atau hasil bumi kebun mereka ke pasar untuk di jual dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer setiap Rabu, Kakek Lido tak pernah jauh beranjak dari tempatnya. Ia hanya gelisah jika suara radio transistor yang menjadi temannya sejak lama sekali mulai suak. Kakek Lido tak akan bisa tidur tanpa radio itu di samping kepalanya. Tak peduli apakah siaran di radio transistornya ia mengerti maksudnya. Tapi dunia seakan menjadi miliknya jika suara Elia Khadam melantun meskipun sesekali suara radio melengking akibat gelombang radio lagi jelek.
Nenek Lido bertubuh subur. Meskipun giginya hanya tersisa tiga buah di bagian kanan atas dan kiri bawah, senyum tak pernah hilang dari wajahnya. Konon, nenek Lido dulu cantik. Banyak jawara kampung dulu mencoba mendapatkan cintanya. Tapi ia dengan tulus menerima pinangan kakek Lido sesuai keinginan ayahnya. Kata ayahnya, terlalu bodoh untuk menolak pinangan Lido muda. Rajin shalat dan punya empat ekor sapi gemuk. Lagipula, mana ada anak gadis di kampungnya yang berani melawan keinginan orangtuanya. Cerita tentang kecantikan itu mungkin saja benar sebab dua anak gadisnya manis, segar, dan kuat seperti ibunya.
Malam semakin dingin dan Nenek Lido berusaha menegakkan badannya untuk menuju ke ranjangnya. Dari kamar bagian tengah yang hanya dibatasi selembar kain bekas seprei yang tak lagi terpakai, dua anak gadisnya tak lagi terdengar suaranya kecuali derit ranjang kriaak… kriuuuk setiap ada pergerakan di atasnya. Kakek Lido tenggelam dalam buaian lagu entah siapa dari radio transistornya. Tapi kakek belum tertidur. Batuknya masih bersahut-sahutan pada beberapa jeda waktu.
”Kamu pinjam alu Puang Daha’ besok pagi. Alu kita patah,” Nenek Lido mematikan nyala lampu minyak kemiri yang terselip di tiang rumah. Tak jelas ia berbicara dengan siapa.
”Kata Nisa, kambing yang hitam kemarin makan bangkai di dekat kuburan. Coba kamu periksa apa dia terkena racun dari bangkai itu,” kata Nenek Lido lagi. Kakek Lido hanya menggerakkan tubuhnya di ranjang mininya pertanda mengerti perintah Nenek. Nenek Lido adalah kepala keluarga yang sebenarnya. Ia roh bagi keluarganya sekaligus pencari nafkah. Tak pernah ia mengeluh dalam hidupnya. Tidak juga ketika Kakek Lido memutuskan menjual dua petak sawah warisannya beberapa tahun lalu untuk selanjutnya membeli radio transistor dan sedikit diserahkan kepada istrinya untuk selanjutnya menikmati hari-harinya dengan radio transistornya. Tak pernah pula ada protes dari kedua anak gadisnya atas semua beban dan peran yang diemban ibunya. Mana berani keduanya masuk ke wilayah peran kedua orangtuanya? Semuanya seperti berjalan alamiah.
Malam merangkak jauh dan dingin semakin menggigit. Hujan mulai turun lagi meski tak sederas sore tadi. Nenek Lido agak gelisah tidurnya. Ia sempat ke dapur dalam gulita untuk mencari sesuatu. Tapi kedua anak gadisnya telah lelap. Terdengan pelan suara krek… krreek… krreeek dari loteng. Sekelebat bayangan melompat ke tiang tengah rumah tepat di atas kamar Jona dan Warni. Rumah panggung itu bergerak. Nenek Lido menggerakkan kepala di atas bantal kusamnya seakan mendengar atau merasakan sesuatu. Akh, angin semakin kencang, pikirnya. Anjing melolong bersahut-sahutan di ujung kampung tepat dari arah kuburan. Tak terdengar suara apa-apa kecuali hujan yang jatuh ke atap rumbia, namun tak cukup keras untuk mengalahkan suara radio transistor Kakek Lido. Tiba-tiba.
”Siapa kamu? Aaakkhh… Kindo,” Jona dan Warni menjerit. Seseorang bertubuh besar bersarung dan berbaju kaus hitam berusaha menindih tubuh Jona. Warni melompat ke luar kamar dan berlari ke ranjang ibunya di dekat dapur. Jona berusaha melepaskan diri dari bekapan lelaki yang mendengus keras. Baju Jona telah robek di bagian depan.
Nenek Lido melompat dari tempat tidurnya. Rambutnya yang telah memutih di sana-sini berurai panjang kusut. Tak dihiraukan sarungnya melorot dan menyisakan celana pendek besarnya menggelantung tak beraturan di perutnya yang bergelambir.
”Siapaa…?” teriaknya setengah melompat.
”Siapa yang berani memegang anakku?” Nenek Lido telah sadar apa yang terjadi. Warni meringkuk di dekat ranjang ibunya sambil menangis.
Dengan keras, Nenek Lido menarik baju lelaki besar yang hampir berhasil memeloroti pakaian Jona. Lelaki itu tersentak keras. Kini ia menghadapi Nenek Lido dengan marah. Matanya berkilat menahan nafsu dan amarah. Nenek Lido mengenalinya: Rappe. Dengan sekali mengayunkan tangan, Rappe, jawara kampung sebelah, menempeleng wajah Nenek Lido dengan keras hingga terhuyung ke atas onggokan daun jagung sisa pekerjaannya tadi sore. Tapi Nenek Lido bisa bangun dan berhasil mencengkeram baju lelaki itu. Sebuah tendangan di bagian muka merontokkan gigi terakhir Nenek Lido. Dari arah belakang, Jona berteriak marah sambil memukulkan bambu obor yang selalu terselip di dinding kamarnya. Rappe semakin marah. Jona tertampar keras di bagian wajah sebelah kiri hingga terjengkang ke belakang.
Nenek Lido melengking marah. Ia melompat menghalangi Rappe yang akan menarik Jona. Rumah panggung itu bergoyang keras. Dalam gelap, Nenek Lido sedang bertarung mempertahankan permata hatinya. Rappe mundur. Wajahnya mengilat bengis dalam gelap malam. Ia tiba-tiba menarik sesuatu dari balik bajunya. Sebilah pedang pendek. Nenek Lido tetap berdiri membelakangi Jona yang menangis ketakutan.
Dalam gelap, sekelebat Rappe bergerak ke depan dengan tangan teracung dengan pedang di tangannya. Tak ada ruang bagi Nenek Lido untuk menghindar atau Jona tertebas di belakangan. Maka, dengan secepat kilat, nenek melompat ke depan menyambut tubuh Rappe. Terjadi tubrukan keras dan keduanya jatuh ke lantai. Dengan cepat Nenek Lido memegang tangan kanan Rappe dan membalikkan tubuhnya ke depan pintu kamar. Rappe kini terdesak dan berusaha menarik tangannya dari pegangan Nenek Lido. Cresss… Berhasil. Secepat kilat Rappe melompat ke pintu belakang dan menghilang ke dalam gelap dan hujan yang semakin deras. Jona melompat memeluk ibunya sambil meraung tangis, ”Kindo…..”. Warni tetap menangis di kamar ibunya dengan penuh ketakutan.
”Dia sudah pergi. Nyalakan lampu,” Nenek Lido menyuruh Jona. Tapi Jona semakin keras memeluk ibunya. Nenek membelai rambut putrinya yang merasakan tangan ibunya basah. Dengan susah payah, Nenek Lido melepaskan diri dari pelukan anaknya dan berusaha menyalakan lampu minyak kemiri. Tangannya gemetar dan nyeri. Lampu berhasil dinyalakan dan Jona menjerit lalu pingsan. Tangan dan baju ibunya yang lusuh penuh darah, kepalanya juga. Nenek Lido jatuh menyandar ke dinding. Ia memegang tangannya yang bersimbah darah. Tiga jari tangan kanannya telah hilang dari tempatnya tersayat pedang saat bergubung dengan Rappe tadi. Tapi Nenek Lido tidak menangis.
Tidak juga ia marah kepada Kakek Lido yang tak pernah beranjak dari tempat tidur dan radio transistornya saat pergumulan dengan mautnya tadi. Kakek bahkan tak pernah merasa perlu untuk menanyakan atau ikut nimbrung pembicaraan kampung ketika Rappe ditemukan mati dengan leher tertebas saat di pinggiran kampung sepulang dari minum tuak di kampung sebelah. Ia hanya sempat bertanya kepada beberapa orang yang melintas di depan apa bertemu dengan Nenek Lido yang belum juga pulang sejak sore hari, bertepatan dengan malam ditemukannya Rappe terkapar mandi darah di pinggir jalan tanah kampung. Kakek bermaksud menyuruh istrinya membeli baterai radionya yang mulai melemah.
Tapi Kakek Lido sadar bahwa kedua anak gadisnya marah kepadanya sebab tak pernah lagi menyapanya sejak kejadian malam itu. Toh ia juga tak terlalu peduli bahkan ketika kedua anak gadisnya menolak duduk di dekat pembaringannya beberapa saat sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan sejak peristiwa malam itu. Hanya Nenek Lido yang setia menemani Kakek di dekat kepalanya yang mulai melemah. Saat mendekati sakratul maut, Nenek Lido mendekatkan mulutnya ke telinga kakek dan membisikkan sesuatu. Entah apa. Tak ada yang tahu. Kakek tak bereaksi apa-apa. Hanya satu permintaan Kakek Lido saat akan meninggal: Dimakamkan bersama radio transistor miliknya dalam satu liang. Hanya itu.
http://cerpenkompas.mywapblog.com/cerpen-kompas-radio-transistor.xhtml